Seiring dengan bunyi kaset di masjid-masjid aku sangat pelan menuju kamar Nidar dan pamit untuk pulang setelah jam 5.00 subuh. “Oh yah, aku nggak sadar Kak. Bokep indo video Ternyata usahaku berhasil. Mana temannya?” katanya berbarengan, bahkan Nidar sempat berdiri sejenak untuk mengajaku makan. “Okelah kalau gitu, perlu aku antar nggak?” kataku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi ia menolak dengan alasan tidak enak.Hampir seluruh pikiranku malam itu terpusat pada Nidar, terutama soal barangnya yang indah sekali yang aku lihat dengan jelas tadi. Mereka masih berdiri berhadap-hadapan karena kami tidak mempunyai kursi sama sekali di rumah itu.Lampu yang kami gunakan untuk belajar setiap malam di rumah kost itu, bukan dari listrik, melainkan lampu sumbu yang terbuat dari kaleng susu, yang terletak menyala di lantai.




















