Pasti terburu-buru. Bokep Ke bawah lagi: Turun. Betul-betul keras. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Apakah perlu menhitung kancing. Ia terus mengelap pahaku. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Mobil melaju. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam.Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku.




















