Pernah suatu saat aku mencoba untuk bersikap santai berbicara sambil menatap matanya yang bening. Bokep Mbak Irma kemudian menjawabnya, “Hallo Pap..” Ternyata telepon dari kakak iparku, suaminya. Demikian juga tatkala suatu saat Mbak Irma sekeluarga datang ke tempatku yaitu tempat mertuaku, aku berusaha menghindar darinya.Setelah basa-basi sebentar aku kemudian pergi ke halaman belakang menyiram bunga-bunga. Setelah menyimpan barang-barangnya di lemari, aku kemudian duduk di kursi menghadap ke tempat tidur. Aku menghentikan semua aktivitasku sampai tubuh Mbak Irma lunglai. Gila benar. Seakan erat menempel pada sandaran kursi. Aku mengagumi begitu mulus dan putihnya tubuh Mbak Irma.“Aduh capai juga,” gumannya. Dalam keadaan tersebut pikiran warasku telah terbang entah ke mana.




















